Minggu, 22 September 2013

Silabus 4

PENGAMBILAN KEPUTUSAN



DASAR- DASAR PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Keputusan adalah hasil pemecahan masalah yang dihadapinya dengan tegas. Hal ini berkaitan dengan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tentang  apa yang harus dilakukan dan mengenai unsur-unsur perencanaan. Dapat juga dikatakan bahwa keputusan itu sesungguhnya merupakan hasil proses pemikiran yang berupa pemilihan satu diantara beberapa alternatif yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah yang dihadapinya.
Keputusan itu sendiri merupakan unsur kegiatan yang sangat penting. Jiwa kepemimpinan seseorang itu dapat diketahui dari kemampuan mengatasi masalah dan mengambil keputusan yang tepat. Keputusan yang tepat adalah keputusan yang berbobot dan dapat diterima bawahan. Ini biasanya merupakan keseimbangan antara disiplin yang harus ditegakkan dan sikap manusiawi terhadap bawahan. Keputusan yang demikian ini juga dinamakan keputusan yang mendasarkan diri pada relasi sesama.
Kemudian terdapat definisi menurut para ahli, antara lain :
·         Menurut George R. Terry :
pengambilan keputusan adalah pemilihan alternatif perilaku (kelakuan) tertentu dari dua atau lebih alternatif yang ada.
·         Menurut Sondang P. Siagian :
pengambilan keputusan adalah suatu pendekatan yang sistematis terhadap hakikat alternatif yang dihadapi dan mengambil tindakan yang menurut perhitungan merupakan tindakan yang paling cepat.
·         Menurut James A. F. Stoner :
pengambilan keputusan adalah proses yang digunakan untuk memilih suatu tindakan sebagai cara pemecahan masalah.
Dari definisi pengambilan keputusan diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa keputusan itu diambil dengan sengaja, tidak secara kebetulan, dan tidak boleh sembarangan. Pengambilan keputusan itu sendiri suatu cara yang digunakan untuk memberikan suatu pendapat yang dapat menyelesaikan suatu masalah dengan cara / teknik tertentu agar dapat lebih diterima oleh semua pihak. Masalahnya telebih dahulu harus diketahui dan dirumuskan dengan jelas, sedangkan pemecahannya harus didasarkan pemilihan alternatif terbaik dari alternatif yang ada.  

Dasar Pengambilan Keputusan :
Menurut George R. Terry, dasar-dasar pengambilan keputusan adalah : 
1.    Intuisi :
Suatu proses bawah sadar/tdk sadar yang timbul atau tercipta akibat pengalaman yang terseleksi. Pengambilan keputusan yang berdasarkan atas intusi atau perasaan memiliki sifat subjektif, sehingga mudah terkena pengaruh.
A.      Segi positif dalam pengambilan keputusan berdasarkan intusi adalah :
·         Waktu yang digunakan untuk mengambil keputusan relatif lebih pendek.
·         Untuk masalah yang pengaruhnya terbatas, pengambilan keputusan akan memberikan kepuasan pada umumnya.
·         Keampuan mengambil keputusan dari peng-ambil keputusan itu sangat berperan, dan itu perlu dimanfaatkan dengan baik.
B.      Segi negatif dalam pengambilan keputusan berdasarkan intusi adalah :
·         Keputusan yang dihasilkan relatif kurang baik.
·         Sulit mencari alat pembandingnya, sehingga sulit diukur kebenaran dan keabsahannya.
·         Dasar-dasar lain dalam pengambilan keputusan seringkali diabaikan.
·         Pengalaman
     2.    Pengalaman :
Pengambilan keputusan berdasarkan pengalaman memiliki manfaat bagi pengetahuan praktis.  Karena pengalaman seseorang dapat mempekira-kan keadaan sesuatu, dapat memperhitungkan untung ruginya, baik-buruknya keputusan yang akan dihasilkan.  Karena pengalaman, seseorang yang menduga masalahnya walaupun hanya dengan melihat sepintas saja mungkin sudah dapat menduga cara penyelesaiannya.
     3.    Fakta :
Pengambilan keputusan berdasarkan fakta dapat memberikan keputusan yang sehat, solid, dan baik.  Dengan fakta, maka tingkat kepercayaan terhadap pengambilan keputusan dapat lebih tinggi, sehingga orang dpt menerima keputusan-keputusan yang dapat dibuat dengan rela dan lapang dada.
     4.     Wewenang :
Pengambilan keputusan berdasarkan wewenang biasanya dilakukan oleh pim-pinan terhadap bawahannya atau orang yang lebih tinggi kedudukannya kepada orang lebih rendah kedudukannya.  Pengambilan keputusan berdasarkan we-wenang juga memiliki beberapa kelebihan dan kelemahan.
A.      Segi positif dalam pengambilan keputusan berdasarkan wewenang adalah :
·         Kebanyakan penerimanya adalah bawahan, terlepas apakah penerimaan tsb secara sukarela ataukah terpaksa.
·         Keputusannya dapat dapat bertahan dalam jangka waktu yg cukup lama.
·         Memiliki otentisitas (otentik).
B.      Segi negatif dalam pengambilan keputusan berdasarkan wewenang adalah :
·         Dapat menimbulkan sifat rutinitas.
·         Mengasosiakan dengan praktek dictatorial.
·         Sering melewati permasalahan yg seharus-nya dipecahkan sehingga dapat menimbul-kan kekaburan.
     5.      Rasional :
Pada pengambilan keputusan yg berdasar-kan rasional, keputusan yg dihasilkan ber-sifat objektif, logis, lebih transparan, kon-sisten untuk memaksimumkan hasil atau nilai dalam batas kendala tertentu, shg dpt dikatakan mendekati kebenaran atau se-suai dgn apa yg diinginkan.
Ada beberapa hal yg harus diperhatikan dalam pengambilan keputusan secara rasional :
    .      Kejelasan masalah.
    .      Orientasi tujuan.
    .       Pengetahuan alternative.
    .      Preferensi yang jelas.
    .      Hasil maksimal.


FAKTOR-FAKTOR yang MEMPENGARUHI PENGAMBILAN KEPUTUSAN

    1.    POSISI/KEDUDUKAN
Dalam kerangka pengambilan keputusan, posisi/kedudukan seseorang dapat dilihat dalam hal berikut.
Letak posisi; dalam hal ini apakah is sebagai pembuat keputusan (decision maker), penentu keputusan (decision taker) ataukah staf (staffer).
Tingkatan posisi; dalam hal ini apakah sebagai strategi, policy, peraturan, organisasional, operasional, teknis.
    2.   MASALAH
Masalah atau problem adalah apa yang menjadi peng-halang untuk tercapainya tujuan, yang merupakan penyimpangan daripada apa yang diharapkan, direncanakan atau dikehendaki dan harus diselesaikan.
    3.  SITUASI
Situasi adalah keseluruhan faktor-faktor dalam keadaan, yang berkaitan satu sama lain, dan yang secara bersama-sama memancarkan pengaruh terhadap kita beserta apa yang hendak kita perbuat.
Faktor-faktor itu dapat dibedakan atas dua, yaitu sebagai berikut.
-Faktor-faktor yang konstan (C), yaitu faktor-faktor yang sifatnya tidak berubah-ubah atau tetap keadaanya.
-Faktor-faktor yang tidak konstan, atau variabel (V), yaitu faktor-faktor yang sifatnya   selalu berubah-ubah, tidak tetap keadaannya.
   4.  KONDISI
Kondisi adalah keseluruhan dari faktor-faktor yang secara bersama-sama menentukan daya gerak, daya ber-buat atau kemampuan kita. Sebagian besar faktor-faktor tersebut merupakan sumber daya-sumber daya.
   5. TUJUAN
Tujuan yang hendak dicapai, baik tujuan perorangan, tujuan unit (kesatuan), tujuan organisasi, maupun tujuan usaha, pada umumnya telah tertentu/ telah ditentukan. Tujuan yang ditentukan dalam pengambilan keputusan merupakan tujuan antara atau objective.
MENURUT PENDAPAT LAIN:
1. Keadaan interen organisasi
Keadaan intern organisasi bersangkut paut dengan apa yang ada di dalam organisasi tersebut.
Keadaan intern organisasi antara lain meliputi dana yang tersedia, keadaan sumber daya manusia, kemampuan karyawan, kelengkapan dari peralatan organisasi, struktur organisasi.
       2.  Keadaan ekstern organisasi
Keadaan ekstern organisasi bersangkut paint dengan apa yang ada di luar organisasi tersebut. Keadaan ekstern organisasi antara lain meliputi keadaan ekonoriki, sosial, politik, hukum, budaya, dan sebagainya.
Keputusan yang diambil harus memperhatikan situasi ekonomi, jika keputusan tersebut ada sangkut pautnya dengan ekonomi.
Keputusan yang diambil tidak boleh bertentangan dengan norma-norma, undang-undang, hukum yang berlaku dan peraturan-peraturan.
       3. Tersedianya informasi yang diperlukan
Dalam pengambilan keputusan, informasi yang diperJukan haruslah lengkap dan memiliki sifat-sifat tertentu, sehingga keputusan yang dihasilkan dapatlah berkualitas dan baik.
        4.  Kepribadian kecakapan pengambil dan keputusan
Kepribadian dan kecakapan dari pengambil keputusan meliputi: penilaiannya, kebutuhannya, intelegensinya, keterampilannya, kapasitasnya, dan sebagainya.
Nilai-nilai kepribadian dan kecakapan ini turut juga mewarnai tepat­ tidaknya keputusan yang diambil.
Jika pengambil keputusan memiliki kepribadian dan kecakapan yang kurang, maka keputusan yang diambil juga akan kurang, demikian pula sebaliknya.

JENIS-JENIS PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Berdasarkan program atau regularitas :
  1.     Pengambilan keputusan terprogram atau terstruktur, yaitu pengambilan keputusan yang sifatnya rutinitas, berulang-ulang, dan cara menanganinya telah ditentukan.
Pengambilan keputusan terprogram ini digunakan untuk menyelesaikan masalah yg terstruktur melalui :
Ø  Prosedur : yaitu serangkaian langkah yang berhubungan dan berurutan yang harus diikuti oleh pengambil keputusan
Ø  Aturan : yaitu ketentuan yang mengatur apa yang harus dan apa yang tidak boleh dilaku-kan oleh pengambil keputusan
Ø  Kebijakan : yaitu pedoman yang menentukan parameter untuk membuat keputusan.
  2.    Pengambilan Keputusan Tidak Terprogram  (Tidak Terstruktur)
adalah pengambilan keputusan yang tidak rutin dan sifatnya unik sehingga me-merlukan pemecahan khusus.
Berdasarkan Tipe Persoalan :
     1.  Keputusan internal jangka pendek, yaitu keputusan yang berkaitan dengan kegiatan rutin/operasional seperti : pembelian bahan baku, penentuan jadwal produksi.
  2. Keputusan internal jangka panjang, yaitu keputusan yang berkaitan dengan perma-salahan organisasional seperti : perombak-an struktur organisasi, perubahan departe-men.
  3.  Keputusan Eksternal Jangka Pendek, yaitu kepu-tusan yang berkaitan dengan semua persoalan yg berdampak dgn lingkungan dalam rentang waktu yang relatif pendek, seperti : mencari subkontrak untuk suatu permintaan khusus.
  4. Keputusan Eksternal Jangka Panjang, yaitu kepu-tusan yg berkaitan dengan semua persoalan dgn lingkungan dalam rentang waktu yg relatif pan-jang, seperti : merger dengan perusahaan lain dan ini bersifat strategis
Daftar pustaka

Jumat, 13 September 2013

SILABUS 3




A.      Perencanaan, Manajemen, dan Administrasi

Pada hakikatnya perencanaan adalah suatu rangkaian proses kegiatan menyiapkan keputusan mengenai apa yang diharapkan terjadi ( peristiwa, keadaan, suasana, dsb). Dan apa yang dilakukan ( intensifikasi, eksistensifikasi, refisi, renovasi, substitusi, kreasi, dsb).

Rangkaian proses kegiatan itu dilaksanakan agar harapan tersebut dapat terwujud menjadi kenyataan dimasa yang akan datang, yaitu dalam jangka waktu tertentu.

Kajian tentang perencanaan pada dsarnya selalu terkait dengan konsep manajemen atau administrasi, hal itu dapat dimaklumi, karena baik dalam konsep manajemen maupun administrasi perencanaan merupakan unsur dan fungsinya yang pertama dan utama.

Pengertian perencanaan menurut bebrapa ahli:

1.   Menurut Prajudi Atmusudirdjo, perencanaan adalah perhitungan dan penentuan tentang sesuatu yang akan dijalankan dalam mencapai tujuan tertentu, oleh siapa, dan bagaimana (Abin,2000).
2.   Perencanaan dalam arti seluas-luasnya tidak lain adalah proses mempersiapkan kegiatan-kegiatan secara sitematis yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu (Bintoro Tjokroamidjojo, 1977)
3.      Perencanaan dapat diartikan sebagai proses penyusunan berbagai keputusan yang akan dilaksanakan pada masa yang akan datang untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Perencanaan itu dapat pula diberi arti sebagai suatu proses pembuatan serangkaian kebijakan untuk mengendalikan masa depan sesuai yang ditentukan. Perencanaan dapat pula diartikan sebagai upaya untuk memadukan antara cita-cita nasional dan resources yang tersedia yang diperlukan untuk mewujudkan cita-cita tersebut. (M. Fakri, 1987)

Dari beberapa definisi diatas, dpat kita analisis dan tarik bebrapa butir penting yang perlu dijadikan bebrapa pegangan dalam menyusun suatu rencana. Butir-butir tersebut, yaitu:
a.       Berhubungan dengan masa depan
b.      Seperangkat kegiatan
c.       Proses yang sistematis
d.      Hasil serta tujuan tertentu





B.      KONSEP DASAR PENDIDIKAN
Pendidikan merupakan upaya yang dapat mempercepat pengembangan potensi manusi untuk mampu mengemban tugas yang dibebankan kepadanya, karena hanya manusia yang dapat dididik dan mendidik. Pendidikan dapat mempengaruhi perkembangan fisik, mental, emosional, moral, serta keimanan dan ketakwaan manusia.

Dalam Dictionary of Education, pendidikan merupakan:
a.  Proses dimana seseorang mengembangkan kemampuan, sikap dan bentuk-bentuk tingkah laku lainnya dalm masyarakat dimana dia hidup.
b.   Proses sosial dimana orang dihadapkan pada pengaruh lingkungan yang terpilih dan terkontrol (khususnya yang datang dari sekolah) sehingga mereka dapat memperoleh dan mengalami perkembangan kemampuan sosial dan kemampuan individual yang optimum.


Pendidikan dapat dinyatakan sebagai suatu sistem dengan komponen yang saling berhubungan dan mempengaruhi minimal sebagai berikut:

1.    Individu peserta didik yang memiliki potensi dan kemauan untuk berkembang.
2.   Individu peserta didik yang mewakili unsur upaya sengaja, terencana, efektif, efisien, produktif dan kreatif.
3.   Hubungan antara pendidik dan peserta didik yang dapat dinyatakan sebagai situasi pendidikan.
4.    Struktur sosiokultural yang mewakili lingkungan.
5.    Tujuan yang disepakati bersama.

                                                              
C.      KONSEP DASAR PERENCANAAN PENDIDIKAN
Beberapa definisi perencanaan pendidikan menutur para ahli, antara lain sebagai berikut:
1.            Definisi yang dikemukakan oleh Guruge(1972) bahwa: ” A simple definition of educational planning is the process of preparing decision for action in the future in the field of educational development is the function of educatinal planning”.
Dengan demikian menurut Guruge bahwa perencanaan pendidikan adalah proses mempersiapkan kegiatan dimasa depan dalam bidang pembangunan pendidikan adalah tugas dari perencanaan pendidikan.
2.        Definisi yang lain sebagaimana dikemukakan oleh Albert Waterston (dalan Don Adams, 1975) bahwa : “functional planning involves the application of a rational system of choices among feasible cources of educatinal invesment and the other development actions based on a consideration of economic and social cost and benefits.” Atau dengan kata lain bahwa perencanaan pendidikan adalah investasi pendidikan yang dapat dijalankan dan kegiatan-kegiatan pembangunan lain yang didsarkan atas pertimbangan ekonomi dan biaya serta keuntungan sosial.
3.    Menurut Coombs (1982) bahwa perencanaan pendidikan adalah suatu penerapan yang rasioal dari analisis sistematis proses perkembangan pendidikan dengan tujuan agar pendidikan itu lebih efektif dan efisien serta sesuai dengan kebutuhan dan tujuan para peserta didik dan masyarakatnya.

Dari bebrapa definisi para ahli diatas dapat dipahami beberapa unsur penting yang terkandung dalam perencanaan pendidikan itu :
1. Penggunaan analisis yang bersifat rasional dan sistematik dalam perencanaan pendidikan.
2.     Proses pembangunan dan pengembangan pendidikan.
3.     Prinsip efektivitas dan efisiensi.
4.     Kebutuhan dan tujuan peserta didik dan masyarakat.


D.      ANALISIS POSISI PERENCANAAN PENDIDIKAN

Perencanaan pendidikan pada dasarnya berpusat pada tiga komponen utama, yaitu:
1.       Perencanaan itu menunjukan tujuan apakah yang harus dicapai.
2.       Bagaimana perencanaan itu dimulai.
3.       Bagaimana cara mencapai tujuan yang harus dicapai.

Pernyataan pertama, mempersoalkan tujuan yang merupakan titik usaha yang harus dicapai. Tujuan adalah arah yang mempersatukan kegiatan pembangunan, tanpa tujuan kegiatan pembangunan pendidikan akan tidak terarah dan tidak terkendalikan. Tuuan merupakan cita-cita (harapan) atau visi atau misi atau sasaran dan merupakan hal yang absolut dan tidak dapat ditawar.
Pernyataan kedua, mempersoalkan titik berangkat pembangunan, sebab pembangunan harus dimulai dari titik berangkat yang pasti dalam arti tidak dimulai dari nol sama sekali tapi dimulai dari tingkat yang sudah dicapi selama ini. Titik berangkat haruslah ditentukan berdasarkan evaluasi atau kajian terhadap yang telah diperbuat bukan apa yang harus diperbuat.
Pernyataan ketga, merupakan alternatif cara atau upaya untuk mencapai tujuan dari titik berangkat yang telah ditentukan itu. Upaya ini dapat saja berbentuk pendekatan, kebijakan atau bahkan strategi yang kemungkinannya amat banyak tergantung kepada kemampuan untuk memilih mana yang paling tepat dan efektif untuk mencapai tujuantersebut.



E.       MEKANISME PERENCANAAN PENDIDIKAN
Perencanaan pendidikan terdiri atas bebrapa jenis, tergantung dari sisi mana dilihatnya. Dari tinjauan tataran dan cakupannya, perencanaan pendidikan ada yang bersifat nasional atau makro, adapula yang bersifat daerah atau regional, ada juga yang bersifat lokal dan ada pula yang bersifat kelembagaan antar institusional bahkan operasional.
1.          Perencanaan pendidikan pada tingkat nasional mencakup selruh usaha pendidikan untuk mencerdaskan atau membangun bangsa termasuk seluruh jenjang, jenis, dan isinya.
2.           Perencanaan pendidikan regional adalah perencanaan pada tingkat daerah provinsi dan atau kabupaten atau kota yang mencakup seluruh jenis dan jenjang untuk daerah atau provinsi itu.
3.   Perencanaan pendidikan kelembagaan, adalah perencanaan pendidikan yang mencakup satu institusi atau lembaga pendidikan terterntu saja, seperti: perencanaan sekolah, atau perencanaan universitas, pusdiklat, dsb.
4.   Perencanaan pendidikan terpadu atau intergrated educational planning. Mengandung arti bahwa perencanaan pendidikan itu mencakup seluruh aspek esensial pembangunan pendidikan dalam pola dasa perencanaan pembangunan nasional.
5.      Perencanaan pendidikan komperhensif mengandung konsep keseluruhan yang disusun secara sistemik dan sistematik.
6.              Perencanaan strategik adalah perencanaan yang mengandung pendektan strategic issues yang dihadapi dalam upaya membangun pendidikan.





Secara sederhana proses perencanaan terdiri atas beberapa komponen utama yang esensial secara prinsipil tidak dapat ditinggalkan. Komponen-komponen itu adalah sebagai berikut:
1.      Kajian terhadap hasil perencanaan pembangunan pendidikan periode sebelumnya sebagai titik berangkat perencanaan.
2.      Rumusan tentang tujuan umum perencanaan pendidikan yang merupakan arah yang harus dapat dijadikan titik tumpu kegiatan perencanaan.
3.      Rumusan kebijakan atau posisi yang kemudian dapat dijabarkan kedalam strategi dasar perencanaan yang merupakan respon terhadap cara mewujudkan tujuan yang ditentukan.
4.      Pengembangan program dan proyek sebagai operasionalisasi prioritas yang ditetapkan.
5.      Schedulling.
6.      Implementasi rencana.
7.      Evaluasi dan revisi.


 Daftar Pustaka:

Syaefudin, Udin. 2005. Perencanaan Pendidikan . Jakarta: Rosda

Rabu, 04 September 2013

SILABUS 2

A. PERKEMBANGAN TEORI DAN FUNGSI MANAJEMEN



  • SEJARAH MANAJEMEN  
    Banyak kesulitan yang terjadi dalam melacak sejarah manajemen.
    Beberapa orang melihatnya (dengan definisi) sebagai konseptualisasi modern
    akhir (late modern conceptualization). Dalam istilah tersebut manajemen tidak
    memiliki sejarah pra-modern, hanya merupakan pertanda. Beberapa orang
    lainnya, mendeteksi aktivitas mirip-manajemen di masa pra-modern. Beberapa
    penulis melacak perkembangan pemikiran manajemen pada pedagangpedangan
    Sumeria dan pembangun piramid Mesir.
    Para pemilik budak selama berabad-abad menghadapi permasalahan
    eksploitasi/memotivasi budak yang bergantung namun terkadang suka melawan
    (memaksa otoritas), namun banyak perusahaan pra-industri, dengan skala
    mereka yang kecil, tidak merasa terdorong ungtuk menghadapi permasalahan
    manajemen secara sistematis. namun, inovasi seperti penyebaran sistem angka
    Hindu-Arab (abad ke-5 hingga ke15) dan kodifikasi kesekretariatan entri-ganda
    (1494) menyediakan perangkat untuk penilaian, perencanaan dan kendali
    manajemen.
    1. Abad 19
    Bidang pelajaran manajemen berkembang dari kondisi ekonomi di abad
    ke-19. Pelaku Ekonomi klasik seperti Adam Smith dan John Stuart Mill
    memberikan teori alokasi sumber daya, produksi dan penetapan harga.
    Pada saat yang hampir bersamaan, penemu seperti Eli Whitney, James
    Watt, dan Matthew Boulton mengembangkan teknik produksi seperti
    standarisasi, prosedur kontrol kualitas, akuntansi biaya, penukaran bahan, dan
    perencanaan kerja.
    Pada pertengahan abad 19, Robert Owen, Henry Poor, dan M. Laughlin
    dan lain-lain memperkenalkan elemen manusia dengan teori pelatihan,
    motivasi, struktur organisasi dan kontrol pengembangan pekerja.
    Prepared by Ridwan Iskandar Sudayat, SE.
    Pada akhir abad 19, Pelaku ekonomi marginal Alfred Marshall dan Leon
    Walras dan lainnya memperkenalkan lapisan baru yang kompleks ke teori
    manajemen. Pada 1900an manajer mencoba mengganti teori mereka secara
    keseleruhan berdasarkan sains.
    2. Abad 20
    Teori pertama tentang manajemen yang lengkap muncul sekitar tahun
    1920. Orang seperti Henry Fayol dan Alexander Church menjelaskan beberapa
    cabang dalam manajemen dan hubungan satu sama lain.
    Peter Drucker menulis salah satu buku paling awal tentang manajemen
    terapan: "Konsep Korporasi" (Concept of the Corporation), diterbitkan tahun
    1946. Buku ini muncul atas ide Alfred Sloan (chairman dari General Motors)
    yang menugaskan penelitian tentang organisasi.
    H. Dodge, Ronald Fisher, dan Thorton C Fry memperkenalkan teknik
    statistika ke dalam manajemen. Pada tahun 1940an, Patrick Blackett
    mengkombinasikan teori statistika dengan teori mikroekonomi dan lahirlah
    ilmu riset operasi. Riset operasi, sering dikenal dengan "Sains Manajemen",
    mencoba pendekatan sains untuk menyelesaikan masalah dalam manajemen,
    khususnya di bidang logistik dan operasi.
    Mendekati akhir abad 20, manajemen terdiri dari beberapa bidang terpisah,
    termasuk: 
    • Manajemen Sumber daya manusia
    • Manajemen operasi atau produksi
    • Manajemen strategi
    • Manajemen pemasaran
    • Manajemen keuangan
    • Manajemen informasi teknologi


  • TOKOH-TOKOH MANAJEMEN 
A. Abad ke-19 – Joseph Wharton, Pengusaha Sukses yang Memanfaatkan Teknologi Baru


Joseph Wharton
Joseph Wharton (3 Maret 1826 - 11 Januari 1909) adalah seorang tokoh dari kota Philadelphia yang dikenal sebagai pedagang, industrialis dan filantropis. Ia juga banyak terlibat di bidang pertambangan, manufaktur dan pendidikan. Ia mendirikan Wharton School di University of Pennsylvania, mendirikan perusahaan co-Bethlehem Steel, dan merupakan salah satu pendiri Swarthmore College.
Wharton adalah seorang kolega pemimpin seperti penemu Ezra Cornell, Elias Howe dan Thomas Edison, serta pengusaha Cornelius Vanderbilt. Gaya manajemennya berevolusi sepanjang paruh kedua tahun 1800-an, dengan menggunakan teknologi baru untuk komunikasi, transportasi, dan produksi, sehingga dia dapat mengendalikan dan menguntungkan banyak industri menjadi skala yang lebih besar daripada yang sebelumnya.

B. Abad ke-19 – Teori Manajemen Klasik, Robert Owen Bapak Manajemen Personalia


Robert Owen

Dimulai pada awal tahun 1800-an sebagai Manajer Pabrik Pemintalan Kapas di New Lanark, Skotlandia. Robert Owen mencurahkan perhatiannya pada penggunaan faktor produksi mesin dan faktor produksi tenaga kerja. Dari hasil pengamatannya disimpulkan bahwa, bilamana terhadap mesin diadakan suatu perawatan yang baik akan memberikan keuntungan kepada perusahaan, demikian pula halnya pada tenaga kerja, apabila tenaga kerja dipelihara dan dirawat (dalam arti adanya perhatian baik kompensasi, kesehatan, tunjangan dan lain sebagainya) oleh pimpinan perusahaan akan memberikan keuntungan kepada perusahaan. Selanjutnya dikatakan bahwa kuantitas dan kualitas hasil pekerjaan dipengaruhi oleh situasi ekstern dan intern dari pekerjaan. Atas hasil penelitiannya Robert Owen dikenal sebagai Bapak Manajemen Personalia.

C. Abad ke-19 - Teori Manajemen Klasik, Charles Babbage Pencetus Division of Labor


Charles Babbage
Charles Babbage adalah seorang Profesor Matematika dari Inggris yang menaruh perhatian dan minat pada bidang manajemen. Dia dipercaya bahwa aplikasi prinsip-prinsip ilmiah pada proses kerja akan menaikkan produktivitas dari tenaga kerja menurunkan biaya, karena pekerjaan-pekerjaan dilakukan secara efektif dan efisien. Dia menganjurkan agar para manajer bertukar pengalaman dan dalam penerapan prinsip-prinsip manajemen. Pembagian kerja (devision of labour), mempunyai beberapa keunggulan, yaitu :
  1. Waktu yang diperlukan untuk belajar dari pengalaman-pengalaman yang baru.
  1. Banyaknya waktu yang terbuang bila seseorang berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain akan menghambat kemajuan dan ketrampilan pekerja, untuk itu diperlukan spesialisasi dalam pekerjaannya.
  1. Kecakapan dan keahlian seseorang bertambah karena seorang pekerja bekerja terus menerus dalam tugasnya.
  1. Adanya perhatian pada pekerjaannya sehingga dapat meresapi alat-alatnya karena perhatiannya pada itu-itu saja.
Kontribusi lain dari Charles Babbage yaitu mengembangkan kerja sama yang saling menguntungkan antara para pekerja dengan pemilik perusahaan, juga membuat skema perencanaan pembagian keuntungan.

D.   Abad ke-20 – Frederick Winslow Taylor, Bapak Manajemen Ilmiah


FW Taylor

 Frederick Winslow Taylor (lahir 20 Mare 1856 – meninggal 21 Maret 1915 pada umur 59 tahun) adalah seorang
insinyur mekanik asal Amerika Serikat yang terkenal atas usahanya meningkatkan efesiensi industri. Ia dikenal sebagai "bapak manajemen ilmiah" dan merupakan pemimpin intelektual dari Gerakan Efesiensi.
Peninggalan Taylor yang paling terkenal dalam ilmu manajemen adalah ide tentang penggunaan metode ilmiah dalam manajemen. Ide ini muncul ketika Taylor merasa kurang puas dengan ketidakefesienan pekerja di perusahaannya. Ketidakefesienan itu muncul karena mereka menggunakan berbagai macam teknik yang berbeda untuk pekerjaan yang sama—nyaris tak ada standar kerja di sana. Selain itu, para pekerja cenderung menganggap gampang pekerjaannya. Taylor berpendapat bahwa hasil dari para pekerja itu hanyalah sepertiga dari yang seharusnya. Taylor kemudian, selama 20 tahun, berusaha keras mengoreksi keadaan tersebut dengan menerapkan metode ilmiah untuk menemukan sebuah "teknik terbaik" dalam menyelesaikan tiap-tiap pekerjaan.
Berdasarkan pengalamannya itu, Taylor membuat sebuah pedoman yang jelas tentang cara meningkatkan efesiensi produksi. Pedoman tersebut adalah:
  1. Menghilangkan sistem coba-coba dan menerapkan metode-metode ilmu pengetahuan disetiap unsur-unsur kegiatan.
  1. Memilih pekerjaan terbaik untuk setiap tugas tertentu, selanjutnya memberikan latihan dan pendidikan kepada pekerja.
  1. Setiap petugas harus menerapkan hasil-hasil ilmu pengetahuan di dalam menjalankan tugasnya.
  1. Harus dijalin kerja sama yang baik antara pimpinan dengan pekerja.

 E. Abad ke-20 – Henry Laurance Gantt tentang Produktivitas Kerja Manusia


HL Gannt
Henry merupakan asisten dari Taylor, dia berdiri sendiri sebagai seorang konsultan, dimana titik perhatiannya pada unsur manusia dalam menaikkan produktivitas kerjanya. Adapun gagasan yang dicetuskannya yaitu :
  1. Kerja sama yang saling menguntungkan antara manajer dan tenaga kerja untuk mencapai tujuan bersama.
  1. Mengadakan seleksi ilmiah terhadap tenaga kerja.
  1. Pembayar upah pegawai dengan menggunakan sistem bonus.
  1. Penggunaan instruksi kerja yang terperinci.


  • FUNGSI MANAJEMEN MENURUT PARA AHLI
1.      Menurut Dr. SP. Siagian dalam buku “Filsafat Administrasi” Management dapat didefinisikan sebagai kemampuan atau keterampilan untuk memperoleh suatu hasil dalam rangka pencapaian tujuan melalui oranglain.
2.      Menurut Prof. Dr. H. Arifin Abdulrachman dalam buku “Kerangka Pokok-Pokok Management” diartikan sebagai
          ·        kegiatan-kegiatan/aktivitas-aktivitas,
          ·        proses, yakni kegiatan dalam rentetan urutan-urutan,
          ·        insitut/orang-orang yang melakukan kegiatan atau proses kegiatan.
3.      Menurut Ordway Tead yang disadur oleh Drs. HE. Rosyidi dalam buku “Organisasi dan Management “ mendefinisikan proses dan kegiatan pelaksanaan usaha memimpin dan menunjukkan arah penyelenggaraan tugas suatu organisasi di dalam mewujudkan tujuan yang telah ditetapkan.
4.      Menurut Marry Parker Follet, manajemen adalah sebagai seni dalam menyelesaikan pekerjaan melalui oranglain.
5.      Menurut James A.F. Stonner manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber-sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang ditetapkan.
6.      Menurut Drs. Oey Liang Lee manajemen adalah seni dan ilmu perencanaan pengorganisasian, penyusunan, pengarahan dan pengawasan daripada sumberdaya manusia untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
7.      Menurut  R. Terry Manajemen merupakan suatu proses khas yang terdiri dari tindakan-tindakan perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengendalian yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran yang telah ditentukan melalui pemanfaatan sumberdaya manusia dan sumberdaya lainnya.
8.      Menurut Lawrence A. Appley, Manajemen adalah seni pencapaian tujuan yang dilakukan melalui usaha orang lain.
9.      Menurut Horold Koontz dan Cyril O’donnel manajemen adalah usaha untuk mencapai suatu tujuan tertentu melalui kegiatan orang lain. 

 Louis A. Allen 
 : Leading, Planning, Organizing, Controlling.

Prajudi Atmosudirdjo 
 : Planning, Organizing, Directing, atau Actuating and Controlling.

John Robert B., Ph.D 
  : Planning, Organizing, Command -ing, and Controlling.

Henry Fayol 
 : Planning, Organizing, Commanding, Coordinating, Controlling.

Luther Gullich

: Planning, Organizing, Staffing, Directing, Coordinating, Repor-ting,Budgeting.

Koontz dan O’Donnel  
: Organizing, Staffing, Directing, Planning, Controlling.

William H. Newman  
: Planning, Organizing, Assem-bling, Resources, Directing,Controlling.

Dr. S.P. Siagian., M.P.A 
 : Planning, Organizing, motivating and Controlling.

William Spriegel  
: Planning, organizing, Controlling

Lyndak F. Urwick  
 : Forecasting, Planning Orga-nizing, Commanding, Coordina-ting, Controlling.

Dr. Winardi, S.E 
 : Planning, Organizing, Coordi-nating, Actuating, Leading, Co-mmunication, Controlling

The Liang Gie 
: Planning, Decision making, Directing, Coordinating, Control-ling,Improving.

James A.F.Stoner  
: Planning, Organizing, Leading, and Controlling.

George R. Terry  : Planning, Organizing, Staffing, Motivating, and Controlling

 DAFTAR PUSTAKA
http://ridwaniskandar.files.wordpress.com/2009/05/2-sejarah-manajemen.pdf

http://www.adityarizki.net/2012/05/tokoh-manajemen-abad-ke-17-hingga-abad-ke-20/

http://tantidwifitralaela.blogspot.com/2012/06/pengertian-manajemen-dan-fungsi.html

 http://www.scribd.com/doc/25242983/Fungsi-Manajemen-Menurut-Pendapat-Para-Ahli